Kamis, 25 Maret 2010

Sumur Tradisional Mulai Dikelola

Akhir 2009, Sumur Tradisional Mulai Dikelola

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, memasang target akhir 2009 pengelolaan ladang minyak tradisional di wilayahnya sudah berjalan. "Kami memanggil dua investor yang kami tunjuk, untuk secepatnya mengerjakan pekerjaan pengelolaan ladang minyak di Bojonegoro," kata Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Pemkab Bojonegoro, Abdul Rochim di Bojonegoro, Minggu.

Kedua investor tersebut yakni PT Prima Energie Lestari (PEL) dan PT Trifika Bangun Energie (TBE), digabungkan dengan KUD Usaha Jaya Bersama dan KUD Sumber Pangan Kecamatan Kedewan. Pada 3 November ini dijadwalkan mereka dipanggil dan dipertemukan,serta diminta secepatnya mengambil langkah pengerjaan pengelolaan ladang minyak mentah itu. "Kami pasang target akhir 2009, kalau tidak ada perkembangan, keputusan penunjukan bisa berubah," katanya menegaskan.

Sebab, lanjutnya, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Jawa Timur, tertarik ikut mengelola ladang minyak mentah itu. "Kalau memang kedua investor itu, tidak bersungguh-sungguh, kami cabut," katanya menambahkan.

Menurut dia, sudah terlalu lama ladang minyak mentah di Desa Wonocolo, Hargomulyo dan Kecamatan Kedewan, tidak dikelola secara benar. Lapangan sumur minyak tua yang seharinya mampu memproduksi sekitar 50.000 liter/hari minyak mentah dengan jumlah sumur yang diproduksikan sekitar 48 buah sumur, sejak Oktober 2006 lalu, produksinya sudah tidak disetorkan lagi kepada Pertamina Cepu, Jawa Tengah.

Minyak mentah tersebut disuling sendiri oleh para penambang dan hasilnya dalam bentuk solar dijual ke berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. "Ya akibatnya, pemkab hingga sekarang ini, tidak mendapatkan pendapatan asli daerah (PAD) dari produksi minyak di wilayah itu," katanya menjelaskan.

Pada tahun-tahun ketika minyak mentah tersebut hasilnya disetorkan kepada Pertamina Cepu di Jawa Tengah, pemasukan PAD ke Pemkab Bojonegoro, bisa mencapai Rp400 juta per tahunnya.

Yang jelas, menurut Abdul Rochim, sejauh ini, pemkab masih memberikan toleransi kepada dua investor itu, untuk mempersiapkan diri. Alasannya, proses penunjukan kedua investor tersebut melalui proses yang panjang. Mulai proses seleksi yang semula diikuti enam investor dan tujuh investor yang ditolak, karena terlambat mendaftar. Setelah dilakukan tes akhirnya PT PEL dan PT TBE yang dinilai lolos. "Dalam pelaksanaannya dua KUD itu mewakili pemkab," katanya. (Kominfo)

Wisata Sumur Minyak

Wisata Sumur Minyak di Bojonegoro

Sumur angguk dan api alam di kawasan hutan Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro bisa dikembangkan sebagai obyek wanawisata. Menelusuri hutan di kawasan Malo terasa sejuk, sesekali terdengar kicauan burung. Di kawasan itu juga terdapat 16 sumur minyak tua peninggalan Belanda yang saat ini sebagian dikelola masyarakat setempat.


Minyak-minyak mentah itu ditambang secara tradisional dan dikelola koperasi lalu disetor ke PT Pertamina. Warga hanya menggunakan mesin diesel sebagai pengganti tenaga manusia yang menarik kawat slig baja untuk mengambil minyak dari dalam perut bumi denga n kedalaman ratusan meter.


Administratur Kesatuan Pemangkuan Hutan Parengan, Kristomo yang membawahi wilayah Malo, Rabu (21/1) mengatakan bila minyak-minyak itu dikelola dengan baik dan masyarakat menerima imbalan jasa atas penambangan tradisional akan berdampak positif bagi kelestarian hutan. "Kalau secara ekonomi mereka bagus, penghasilan cukup, ketergantungan mereka pada hutan bisa dikurangi," katanya.

Menurut dia para pencari kayu rencek (kayu bakar) hanya bisa memperoleh hasil Rp 15.000. Para pencari rencek hanya bisa mencari rencek sekali karena memang jaraknya jauh dan jalannya naik turun.

Oleh karena itu dia berharap bisa bersinergi dengan masyarakat sekitar hutan dan berkoordinasi dengan Pertamina dan pemerintah agar masyarakat sekitar hutan lebih bisa diberdayakan secara ekonomi. Dia melihat sumur-sumur minyak tua bisa dikelola tetapi butuh biaya tinggi. "Andai koperasi milik masyarakat diberi kewenangan penuh mengelolanya dengan hasil yang sepadan maka perekonomian warga sekitar hutan akan meningkat," ujarnya.

Menurut Kristomo kegiatan tambang tradisional juga bisa menjadi obyek wisata. Apalagi di Malo ada juga sumur angguk, yakni seperangkat alat untuk menimba minyak yang sampai kini masih berfungsi. Ada bagian alat yang mengangguk-angguk sehingga disebut sumur angguk.

Asper KPH Parengan, Khoirul Huda menambahkan di kawasan tersebut terlihat banyak saluran gas yang masih aktif. Bahkan di tapi jalan kawasan hutan di Malo di petak 19, resor Pemangkuan Hutan Kampak, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Pungpungan ada titik kel uarnya gas yang menyemburkan api yang besar.

Api dari gas tersebut dipakai masyarakat untuk membakar jagung atau menghangatkan tubuh saat kehujanan. Sumur angguk dan api alam di kawasan hutan Malo cukup menarik orang luar Bojonegoro. "Kalau ini bisa dikembangkan jadi obyek wisata lebih punya nilai ekonomi," katanya.

Sumur Minyak Itu

Puluhan Sumur Minyak Itu Hanya Berkedalaman 3 Meter
2009
KOMPAS/AHMAD ZULKANI
ilustrasi

BOJONEGORO, KOMPAS.com — PT Sirkuitindo Utama milik H Hutomo MP (Tommy Soeharto) menemukan puluhan lubang sumur minyak tua di Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

"Temuan lubang sumur minyak tua itu di luar kawasan lapangan minyak tua di tiga desa di Kecamatan Kedewan, yang sekarang ini ditambang penduduk," kata Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro Abdul Rochim, Sabtu (31/10).

Abdul Rochim mengaku, pekan lalu, mengikuti survei yang dilakukan Direktur Utama PT Sirkuitindo Utama Tinton Soeprapto ke wilayah Kecamatan Kedewan. Dari survei yang dilakukan itu, ditemukan puluhan lubang sumur minyak tua peninggalan Belanda di tengah-tengah kawasan hutan jati. "Diperkirakan, ada 60 lubang sumur minyak tua," ungkapnya.

Rata-rata kedalaman sumur minyak tua yang sudah terbuka itu berkisar tiga meter. Pembukaan lubang sumur minyak tua yang awalnya ditutup Belanda tersebut dilakukan warga.

"Diuji hanya dengan cara dilempar batu, diperkirakan di kedalaman tiga meter tersebut ada sumber minyaknya," katanya.

Ia menjelaskan, PT Sirkuitindo Utama, yang menggandeng investor asal Malaysia, menandatangani nota kesepahaman dengan Pemkab Bojonegoro pada tanggal 12 Oktober lalu. Dalam nota kesepahaman itu, disepakati bahwa perusahaan itu diberi wewenang untuk melakukan survei sumur minyak tua dalam waktu enam bulan.

Dalam nota kesepahaman disebutkan, survei sumur minyak tua peninggalan Belanda dilakukan di seluruh wilayah Bojonegoro di luar lapangan minyak di Desa Wonocolo, Hargomulyo, dan Beji, Kecamatan Kedewan. "Hasil survei awal itu, perusahasan itu optimistis di wilayah Bojonegoro terdapat titik potensial ladang sumur minyak tua yang bisa dikelola," paparnya.

Selain di Kecamatan Kedewan, titik potensial yang diperkirakan memiliki sumur minyak tua yakni sejumlah desa di Kecamatan Malo, Trucuk, dan Kedungadem.

Dengan adanya temuan awal itu, PT Sirkuitindo Utama optimistis dengan kemampuan yang dimiliki, baik teknologi maupun dana, untuk mampu memproduksikan sumur minyak tua di Bojonegoro.

Produksi sumur minyak tua yang merupakan temuan baru di luar lapangan sumur minyak tua di tiga desa di Kecamatan Kedewan direncanakan diproses di kilang mini milik Tommy dengan kapasitas 10.000 barrel per hari. Kilang tersebut berada di Cepu, Jawa Tengah.

Pengelolaannya bekerja sama dengan Pemkab Bojonegoro. "Survei untuk menemukan titik potensial sumur minyak tua di Bojonegoro masih terus berjalan," katanya. fq 2009