Senin, 29 Juni 2009

Neolib Atau Kerakyatan

Akhir-akhir ini kita kerap mendengar istilah “Neo-Liberalisme”. Dalam kaitannya dengan konsep ekonomi yang diusung oleh capres-cawapres, istilah yang kerap disingkat “Neo-Lib” itu dianggap merupakan lawan dari “Ekonomi Kerakyatan”. Jujur saja, saya bukanlah ahli ekonomi. Jadi, saya mencoba mencari rujukan tentang kedua istilah tersebut.

Saya menemukan sebuah artikel di Wikipedia, namun karena ensiklopedi internet ini bisa diisi siapa saja, ada catatan mengenai netralitas oleh para moderator seniornya untuk entri “Neoliberalism”. Artikel itu menyatakan kalau neo-liberalisme adalah label atau kelanjutan semata untuk liberalisme klasik. Inti dari neo-liberalisme adalah perdagangan bebas dan pasar bebas. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kekuasaan pasar setelah dunia dilanda Depresi Besar (The Great Depression). Nah, kebalikannya untuk ekonomi kerakyatan, saya sulit menemukan referensinya di internet. Dengan kata kunci “ekonomi kerakyatan”, saya malah mendapatkan sambungan terputus (broken link) dari Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin di urutan teratas. Lalu disusul sejumlah tulisan berita dan posting di blog. Baru beberapa baris di bawahnya ada tulisan M.Dawam Rahardjo di Media Indonesia tahun 2002. Tanpa definisi, tapi inti tulisan itu sepertinya mengedepankan ekonomi kerakyatan sebagai ekonomi yang berbasis koperasi.

Dengan minimnya referensi di internet tentang “ekonomi kerakyatan”, saya lantas jadi bingung, apakah ini semacam jargon semata? Kalau saya dan pembaca blog ini yang nota bene cukup punya akses ke teknologi maju seperti internet saja bingung, apa rakyat kebanyakan tidak bingung? Padahal mereka sulit mendapatkan akses, jangankan internet, wong listrik saja belum tentu ada.

Saya lantas berpikir, apakah serangan kepada Boediono dan SBY sebagai penganut paham neolib akan laku diserap rakyat? Nyatanya, dalam Pemilu legislatif lalu, segala upaya caleg berbagai parpol gagal membendung Partai Demokrat. Tentu saja, kita kesampingkan gugatan parpol yang tengah diproses Mahkamah Konstitusi (MK) dan akan bergulir menjadi hak angket oleh DPR. Jika saja Pemilu kemarin dianggap jujur, rakyat rupanya lebih terkesan pada upaya pragmatis pemerintah seperti menurunkan harga BBM. Walau kerja itu sebenarnya bukanlah kerja Partai Demokrat semata, tapi selaku Ketua Dewan Pembina, SBY yang masih menjabat presiden jelas mendapatkan keuntungan.

Bagi rakyat, sebenarnya inti masalah bukan pada sistem ekonomi yang dianut pemerintah, melainkan lebih pada tersedianya jaminan situasi dan kondisi yang kondusif untuk mencari nafkah. Ini kemudian terkait dengan tersedianya lapangan kerja, pasokan barang dan jasa yang teratur, terjamin dan terjangkau, serta terdapatnya pasar untuk menyerap barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat.

Namun, keliru pula bila mengabaikan perdebatan mengenai konsep ekonomi pemerintah. Hanya karena rakyat kita sebagian besar memang tidak tahu lantas kemudian jadi tidak peduli, bukan berarti kita membiarkan pemerintah “cek isi sendiri” untuk kemudian dapat diisi dengan sistem ekonomi sekehendak hati. Karena kalau tidak diawasi, pemerintah bisa seenaknya melakukan tindakan ekonomi yang merugikan rakyat. Seperti pernah dilakukan oleh seorang presiden yang menjuali aset negara berupa BUMN strategis ke tangan asing. Masalah ekonomi memang tidak sederhana, dan alangkah baiknya pertikaian politik yang terjadi tidak menghalangi pemerintah mendatang membentuk kabinet kerja (zaken kabinet) terbaik dengan mengikutsertakan semua pakar dari segala golongan. Demi kemajuan bangsa, mengapa tidak?

Kiai dan Warga NU Dukung JK-Win

Surabaya
Pembukaan muskerwil NU Jatim di Gedung Diklat Depag Jatim kemarin, menjadi ajang untuk memperkenalkan slogan Capres-Cawapres Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win).

Walaupun dihadiri Gubernur Soekarwo dan Wagub Saifullah Yusuf yang dikenal pendukun SBY, Ketua PWNU Jatim, KH Hasan Mutawakkil Alallah dalam pidatonya berkali-kali menyebat slogan JK-Win "Lebih Cepat Lebih Baik".
Dalam catatan HARIAN BANGSA, KH Mutawakkil menyebut slogan itu sedikitnya 10 kali.
Saat rombongan utusan kiai NU Madura yang datang terlambat masuk ke arena, KH Mutawakkil langsung memberi kata sambutan. "Selamat datang kiai-kiai dari Madura, mereka terlambat karena Suramadu belum selesai, memang yang baik iti adalah; ebih cepat lebih baik," kata pengasuh Ponpes Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo ini yang langsung disambut tepuk tangan hadirin.

Menurut perhitungannya, saat ini hampir semua kiai NU di Jatim sepakat mendukung JK-Win. Alasannya, karena komitmen JK-Win untuk mendukung dan mempertahakan Islam Aswaja lebih jelas. "Kiai-kiai bersatu untuk mendukung JK-Win, karena komitmennya jelas, "katanya sembari mengingatkan dukungan itu atas nama pribadi bukan atas nama kelembagaan NU. Ia sendiri mengakui memang mendukung JK-Win dan menghadiri pertemuan kiai-kiai dengan JK-Win di Ponpes Langitan.
Yang lebih menyakinkan lagi, KH Mutawakkil malah berani menyebut hampir sebagaian besar kiai NU merapat ke JK-Win. "Kiai yang dulu mendukung Kaji dan Karsa sekarang bersatu mendukung JK-Win," tegasnya.

Rais Syuriyah PWNU Jatim, KH Miftahul Achyar juga terlihat mendukung JK-Win. Dalam tausiyahnya sempat menyitir Qunun Asasi (anggaran dasar) NU. Menurutnya, NU sudah saatnya untuk mendukung kekuasaan yang mampu memberi perlindungan terhadap faham Islam Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) yang dianut oleh NU. "Sebagaimana pidato Hadratussyekh KH Hasyim Asya'ari dalam qonun asasi NU, perlu dakwah agar Islam Aswaja tetap terjaga. Apalagi banyak kekuatan yang kini membonceng kekuasaaan untuk merusak faham Aswaja," tegasnya diplomatis.

Ia juga sempat mengkhawatir NU bakal dimasuki kepentingan kelompok Islam non Aswaja dalam muktamar yang akan datang. "Kami juga mengkhawatirkan ada 'Abu Hasan-Abu Hasan' lain yang akan mempengarai muktmar NU yang akan datang.

Abu Hasan adalah orang yang berusaha merusak NU saat Muktamar di Cipasung 1987 lalu. Saat itu Abu Hasan dikenal sebagai orang ekternal yang berusaha menjegal KH Abdurrahman Wahid, yang saat itu sangat keras menentang rezim Orba Soeharto.

Menurutnya pilihan politik kiaia-kiai NU yang mendukung capres yang berkomitmen tetap memberi perlindungan terhadap ajaran Islam Aswaja, tidaklah menyalahi khittah NU. Sebab, langkah itu, menurutnya bagian dari dakwah NU, agar Islam Aswaja tetap lestari di bumi Indonesia
Secara diplomatis, pengasuh Ponpes Miftahussunnah, Kedung Tarukan Surabaya ini memang condong ke JK-Win, dalam akhir sambutannya ia juga sempat menyebut "lebih cepat lebih baik".

Wakil Rais NU Jatim, KH Ahmad Subadar salah satu kiai pendukung Karsa dalam Pilgub saat memimpin doa malah secara khusus mendoakan agar JK terpilih menjadi presiden. Dalam doanya itu, KH Subadar juga berharap capres yang didukung NU itu bisa mempertahankan Islam Aswaja, yang menjadi fahama anutan Islam mayoritas di Indonesia.
Namun KH Aziz Manshur yang kemarin juga hadir melihat kecenderungan kiai NU mendukung JK-Win adalah sikap pribadi dan bukan sikap resmi NU. "Itu sikap pribadi, saya tetap mendukung SBY sebagaimana sudah ditetapkan oleh DPP PKB," kata KH Aziz yang juga Ketua Dewan Syuro DPW PKB Jatim ini.
Hadiri dalam acara ini puluhan kiai, antara lain KH Fawaid As'ad Syamsul Arifin, KH Anwar Manshur, KH Anwar Iskandar, KH Idris Abd Hamid.
Sementara dari PBNU tampak hadir ketua PBNU Ahmad Bagdja, Wakil Sekjen Taufik Abdullah